to Share to Inspire

Saya percaya inspirasi bisa datang dari mana saja. Saya bisa menginspirasi, anda juga bisa menginspirasi. Begitupun dengan berbagi. Jangan pernah menunggu untuk berbagi, jika bisa melakukannya sekarang!

Month: Mei, 2013

Menulislah dengan Emosi, Bukan Pikiran!

Belakangan terakhir seorang adik angkatan mengeluhkan, bahwa dirinya tidak bisa menuliskan sebuah pengalaman pribadi. Alasannya cukup simple. Karena ia merasa tak memiliki dua hal. Katanya, “menulis itu butuh bakat dan kreativitas, dan aku tidak mempunyai salah satu dari keduanya”.

Saya bilang, semua itu berawal dari hal yang sederhana, didukung dengan doa, dibumbui oleh mimpi dan dikerjakan dengan sepenuh hati—kata saya mengutip pernyataan yang pernah diungkapkan Dharma Satriadi, mahasiswa Indonesia peraih penghargaan L’Oreal estrat Challenge di Paris, April 2006 lalu.

Seperti yang pernah saya tulis di blog pribadi lama saya: haris-berbagi bahwa menulis cerita atau sebuah karya itu tidak harus berawal dari apa yang kita pikirkan, tapi marilah kita coba untuk memulai menulis dengan apa yang kita rasakan, artinya mulailah menulis itu dengan sebuah emosi. Kemudian menuangkannya dalam secarik kertas (kalau sekarang ya di laptop bisa).Karena menurut saya, jika kita memulai menulis dengan apa yang kita rasakan, kita mulai menulis dengan emosi kita sendiri, maka itu artinya tulisan kita akan bisa terus mengalir. Tidak buntu di tengah-tengah jalan saat menulis.

“Sulit banget. Rasanya di fikiran penuh dengan inspirasi, tapi tangan tak bisa bergerak untuk menuliskan semua yang ada di fikiran,” jawab adik angkatan saya itu, mengomentari saran yang saya berikan.

Lalu saya katakan kepadanya, “Menulisnya dengan emosi. Bukan dengan fikiran”.

 “Tapi tetep aja sama mikir, kan? Hehe *ngeyel,” jawabnya. Adik angkatan saya ini sepertinya memang tak mau menulis.

“Aku nyerah. Nggak jadi nulis,” eh ternyata benar. Selang satu hari saya jelaskan menulis dengan emosi, Ia malah nyerah tak jadi nulis (waduh).

Bila ada case semacam begini, biasanya saya diamkan dulu. Saya tak mau berdebat panjang jika memang tidak mau. Tapi, selang beberapa menit, ia kirim massage kepada saya.

“Mas Haris…” panggilnya lewat sebuah pesan singkat.

“Dalem…” jawab saya.

“Menulis dengan emosi itu bagaimana, seperti apa…?”

Hey, hey! Saya senyum-senyum sendiri merasakan adik angkatan saya ini. Saya yakin, sebenarnya ia juga penasaran, bagaimana sebenarnya cara menumbuhkan kemauan untuk menulis itu. Ya. Menulis dengan emosi. Hehe…Kenak ya? :D

Saya katakan padanya.

“Menulis dengan emosi itu ibarat kita menulis di buku diary kita masing-masing.” saya mengawali.

“Lewat buku harian, yang kita anggap wilayah pribadi itu, ranah sosial terekam. Di sana, kita bisa menulis soal wajah bangsa dan masyarakatnya. Di sana pula, kita akan menemukan perjumpaan antara pikiran, perasaan  dan realita dunia yang terkadang akan melahirkan tulisan-tulisan yang tidak hanya begitu menyentuh, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi orang ramai bila kita mau menuliskannya. Untuk bersama-sama kemudian melaburi dunia itu dengan rasa dan empati yang kita rasakan. Ayo, nulis!” panjang lebar saya jabarkan makna menulis dengan emosi ini kepadanya.

Dan, apa yang ia katakan? Selang beberapa menit, ia menyampaikan.

“Ralat,  nggak jadi nyerah. Makasih, Mas Haris. Aku sekarang mau nulis. Sekarang aku mau ngelanjutin. Hampir selesai tulisanku.”

“Mantab!” apresiasi saya kepadanya.

So, kawan semua. Cerita di atas adalah nyata. Tidak saya karang. Menulis memang susah-susah gampang. Tapi mana bisa kita menulis bila kita tidak mulai dari apa yang kita rasakan? Mana bisa menulis bila kita tidak mulai dari sekarang? Jadi, mari kita menulis dengan emosi, bukan pikiran. Percayalah bahwa cerita kita bisa menginspirasi orang lain.

Meminjam istilah Iman Usman—Presiden Indonesian Future Leader (IFL), Mahasiswa Berprestasi UI 2012:

Jangan takut untuk mulai (menuliskan) cerita, jika cerita anda bisa membuat orang lain lebih baik, dan jauh lebih kuat. Jangan takut untuk berbagi, dan jangan pernah menunggu untuk berbagi, jika anda bisa melakukannya sekarang!

Dan ini, kutipan yang paling saya suka dari seorang Pramoedya Ananta Toer:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer

Salam @harisnurali

Tulisan ini adalah re-post dari blog lama saya.

Hari Ini Saya Belajar ‘Apa Itu Integritas?’

Tulisan ini sudah pernah saya share di twitter @YOT_Yogyakarta. Kebetulan, semalam saya jadi host-nya. Saya ulang untuk ditulis di sini. Saya dedikasikan untuk kawan-kawan yang belum tergabung dalam twitland.

Mari awali setiap pembelajaran dengan sebuah pertanyaan agar otak terangsang untuk mencari jawaban. Dan, pertanyaan saya adalah “apa itu integritas?”

Integritas sering disamakan dengan kejujuran. Coba tanyakan kawanmu. Apa itu integrias? Hampir pasti, mereka akan menjawab integritas adalah kejujuran. Apakah ini benar? Benar, tapi tidak selamanya benar. Begini. Lebih luas, integritas tidak hanya sekedar kejujuran saja. Ada value-value lain di sana. Setidaknya, integritas itu mencakup tiga unsur ini: honesty, have an effort for perfection, and have a good character. Orang yang memahami ketiga-tiganya dan secara konsisten dijadikan sebagai kebiasaan dalam berperilaku, maka bisa dipastikan, akan muncul jiwa integritas dalam diri orang tersebut.

Integritas akan menjadi faktor penting dalam hidup seseorang. Apalagi jika dikaitkan antara leader dan follower. Seorang follower yang bijak, tentu tahu mana leader yang harus ia follow dan mana leader yang tidak harus ia follow. Sebaliknya. Leader yang bijak, dia pun tahu mana bad follower dan mana good follower dari integritas yang dimunculkan followers-nya. Therefore, jika saat ini kamu sedang menjadi seorang leader ataupun follower, maka perhatikan baik-baik: apakah orang di circle kamu adalah orang-orang yang punya integritas atau tidak.

Pertanyaan saya sekarang: bagaimana cara kita bisa tahu kalau orang itu punya integritas atau tidak?

Just observe them well

Yep! just observe them well. Perhatikan. Amati dalam-dalam. Apakah dia konsisten atau tidak antara ucapan dengan tindakannya. Memperhatikan baik-baik konsistensi antara kata dan perbuatan seseorang merupakan “simple tool” untuk memprediksi orang punya atau tidak. Jika dia sering melanggar apa yang sudah diucapkan, apa yang sudah dijanjikan, berarti alamat, integritas orang itu dipertanyakan. Contoh simple-nya begini.

Janjian jam 10.00. Dia yang undang. Dianya yang ngelanggar. Jam 10.01 (meski 1 menit) dia baru datang. Itu namanya sudah tidak on time. Sudah telat. Integritasnya dipertanyakan!

Image

Orang yang punya integritas itu biasa respect. Respect to people, respect to system, and respect to time. Orang dengan integritas yang tinggi berarti dia leader tanpa kedok. Punya tanggung jawab. Berjiwa loyal. Berkarakter dan turun memberi contoh.

Leader yang berintegritas adalah pemimpin yang matang. Tanpa kompromi. Menolak pengakuan untuk diri sendiri. Leader berintegritas bertindak sesuai apa yang diucapkan. Bertindak sama di depan. Sama di belakang. Sama di samping. Everywhere. Konsisten antara value yang diyakini dan effort yang menjadi tindakan. Ini, yang kemudian disebut have a good character. Jujur dalam segala hal. Mengutamakan kesempurnaan. Dan terus mau belajar untuk bertanggung jawab.

Kunci Mengambangkan Integritas

Setidaknya ada dua kunci untuk mengembangkan integritas. Pertama, mau memperhatikan hal-hal kecil. Mengerjakan planning dengan matang dan ada proses evaluasi setelahnya. Kedua, berani TIDAK untuk hal-hal di luar value. Dua kunci ini yang akan menjadikan seseorang memiliki integritas tinggi dan menjadikan dirinya seorang pemain. Bukan pecundang yang pasrah jika arus mengajak untuk membelot.

Have the courage to say no. Have the courage to face the truth. Do the right thing because it is right. That is the magic keys to living your life with integrity. Integrity is doing the right thing, even if nobody is watching!

Sebagai closing statement, perhatikan baik-baik kalimat berikut ini:

Tidak semua orang bisa memiliki integritas yang baik dan tinggi. Butuh proses dan perjuangan untuk menuju ke sana. Sulit memang, tapi setiap perkara yang sulit bukan berarti tidak bisa dilewati. Terus berusaha adalah kunci menuju apa yang diinginkan bisa tercapai. Honesty, have an effort for perfection and have a good character. Tiga poin inti menjawab ‘apa itu integritas’.

Saya @harisnurali. See you on TOP!

Teori Bertoilet

Minggu 28 April lalu, saya dan teman pengurus Young On Top (YOT) Yogyakarta mengadakan meet up and gathering dengan pendiri Young On Top yang juga seorang entrepreneur, Mas Billy Boen. Acara ini diadakan di Muara Kapuas, Jalan Kaliurang utara almamater saya. Tepat 14.30, selepas Mas Billy ngisi di Seminar National Youth for Indonesia (NUSA) di UII, gathering pun di mulai. Di situlah teman-teman pengurus Young On Top Yogyakarta kali pertama bertemu dengan pendiri YOT (kecuali saya dan Enggar).

Satu ilmu dari sekian banyak ilmu dari Mas Billy yang bisa saya share untuk teman-teman di sini adalah tentang “teori (ber)toilet”. Apa itu? Apakah kamu merasa aneh?

Sekilas, saya merasa agak aneh (sekaligus penasaran) ketika Mas Billy melontarkan kata tersebut. Apa maksud teori toilet ini? Pikir saya waktu itu. Setidaknya demikian yang saya tangkap dari raut muka beberapa teman pengurus yang waktu itu juga mendengarkan kata “teori toilet” dari Mas Billy.

Teman, kamu pasti pernah, bukan, pergi ke toilet? Pas lagi kebelet banget, nggak nahan banget. Pasti kamu akan segera pergi ke toilet. Ketika kamu lagi senggang, it’s ok. Langsung aja pergi ke toilet. Nggak ada halangan yang merintang. Tapi akan berbeda kondisi dan aksi saat kamu dalam kondisi yang sangat terjepit.

Begini. Coba bayangkan saat kamu misalnya, sedang dalam kondisi mengikuti ujian tengah semester, atau pas rapat penting. Lalu perut kamu mengharuskan untuk pergi ke toilet saat itu juga. Kamu udah benar-benar nggak kuat nahan rasa sakit buat buang hajat.

Nah, apa yang akan kamu lakukan ketika ada orang lain melarang kamu untuk tidak pergi ke toilet? Apakah kamu akan tetap bertahan dalam kondisimu yang lagi “terjepit” menahan sakit perut kamu? Atau kamu langsung cuss….lari cari toilet?

Jika ditarik pertanyaan: apakah kamu cuma mau aja (ke toilet) atau mau banget (ke toilet)?

Contoh lagi ya…

Jika kamu dalam kondisi rapat penting sama Bos kamu. Dan kamu merasa ngantuk karena penjelasan bos kamu membosankan. Lalu kamu ingin pergi ke toilet. Then….dengan serius saat mimpin rapat, bos kamu bilang.

“Eh, Haris! Kamu mau kemana?” tanya Bos kamu saat kamu mau ke Toilet.

“Mau ke toilet, pak” jawab kamu, santai. Ingat. Kamu hanya pengen aja. Soalnya bos kamu cara mimpin rapatnya bikin bosenin.

“Nggak usah! Ini rapat penting. Nggak boleh ada yang pergi dari ruangan ini!!” Bos kamu suaranya tegas banget menjawab.

Nah, karena kamu nggak pengen-pengen amat pergi ke toilet, nggak jadi deh kamu pergi ke toiletnya. Terus akhrinya kamu duduk kembali dan mendengarkan bos kamu mimpin rapat meski sambil bilang dalam hati “Ih, bete tahu, bos!” Kalau kamu memang benar-benar sangat terpaksa banget pengen pergi ke toilet, harusnya kamu udah sejak tadi-tadi perginya.  Bos kamu mau bilang apa pun, pasti kamu tetap pergi ke toilet. Iya, bukan?

Value Cerita

Value yang bisa kita petik dari cerita dan teori (ber)toilet di atas adalah hanya keinginan yang sangat kuat dan utuh yang mampu menembus segala ‘rintangan’. Orang mau bilang apapun, tapi ketika kamu sudah sangat, sangat, dan sangat kepengen banget. Kamu butuh banget sama apa yang pengen kamu tuju. Maka orang mau bilang apa pun, kamu pasti akan terus go on, kamu pasti akan terus go a head. Nggak peduli mereka mau ngelarang atau mau apa.

Begitu juga jika kamu punya mimpi. Jika kamu hanya pengen aja, bisa dipastiin, kamu ngga akan dapat tuh apa yang kamu impikan. Tapi jika kamu emang benar-benar kepengen banget, kamu butuh sama mimpi kamu banget, maka bisa dipastiin, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dan kamu pun dengan cepat meraihnya.

Salam @harisnurali

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.683 pengikut lainnya.