PELAJARAN APA YANG BISA KITA PETIK?

Jalan-jalan ke dunia maya, bagi sebagian orang, memang mengasyikan. Akan ada banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang didapat dari sana. Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Saya lupa kapan perisnya.  Tapi saya sadar di mana saya sedang terdampar waktu itu. Di suatu blog. Dan pemilik blog itu rupanya adalah kawan saya sendiri, Winda Ari Anggraini. 

Dari tulisan-tulisannya, ada satu cerita yang menurut saya sangat menarik. Cerita itu mengisahkan tentang seorang profesor yang mengajarkan hal penting kepada para mahasiswanya. 

Apa itu?

Inilah cerita itu:

***

Beberapa tahun lalu di sebuah sekolah bisnis ternama di Amerika Serikat, seorang professor menyampaikan sebuah kuliah luar biasa tentang ekonomi social didepan kelas S2nya. Tanpa menjelaskan apa yang sedang dilakukannya, dengan hati-hati sang professor meletakkan sebuah toples kaca diatas mejanya. Lalu, dengan diikuti tatapan mata para mahasiswanya, dia mengeluarkan sekantong penuh batu, dan memasukkannya satu per satu kedalam stoples itu, sampai tak ada lagi batu yang bisa dimasukkan. Dia bertanya kepada para mahasiswanya, “Apakah stoples ini sudah penuh?”“Ya,” jawab mereka.

Sang professor tersenyum. Dari bawah mejanya dia meraih tas kedua, yang satu ini penuh kerikil. Dia lalu menuangkan sambil menggoyang-goyangkan kerikil-kerikil itu untuk mengisi celah-celah diantara batu-batu yang lebih besar diadalam toples. Untuk kedua kalinya dia bertanya pada para mahasiswanya,“Apakah toples ini sudah penuh?” “Belum”, jawab mereka. Sekarang mereka mulai dapat meneba apa yang akan terjadi.

Tentu saja mereka benar, karena sang professor mengambil lagi sekantong penuh pasir halus. Dia berusaha menuangkan pasir itu kedalam toples tadi, mengisi celah diantara batu-batu besar dan kerikil yang telah dimasukkan sebelumnya. Lagi-lagi dia bertanya,“Apakah toples ini sudah penuh?” “Mungkin belum pak, yang tahu cuma anda,” jawab mahasiswanya.

Tersenyum mendengarkan jawaban itu, sang professor mengeluarkan seteko air, yang kemudian dia tuangkan kedalam toples yang penuh dengan batu, kerikil, dan pasir halus itu, dia meletakkan teko itu dan memandang ke seluruh kelas.

“Lantas, pelajaran apa yang dapat kita petik?”, tanyanya kepada para mahasiswa.“Tak peduli seberapa padatnya jadwal anda, anda akan selalu bisa menambahkan sesuatu kedalamnya. Jangan lupa, ini kan sekolah bisnis terkenal.” Sambut salah seorang mahasiswa.”Bukan!” jawab sang profesor dengan empati. ”Apa yang ditunjukkan adalah jika kalian ingin memasukkan batu-batu yang besar, kalian harus memasukkannya pertama kali.”


Jadi, apakah ”batu besar” yang ada dalam ”toples” kita? Apakah hal yang paling penting yang harus dimasukkan kedalam kehidupan? Sudah seharusnya untuk menjadwalkan ”batu besar dan berharga” sebagai prioritas utama, atau kita tidak akan pernah mendapatkannya untuk mengisi kehidupan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s